Friday, February 15, 2013

A Superstar


tulisan pertama yang gue janjikan untuk projek buat project pop. selamat menikmati!

**
       

            “Itu Ilia kan ya Yo?” tanya seorang teman gue ketika melihat Ilia tampil di sebuah stasiun televisi.

            “Iya, keren dia sekarang sudah terkenal.” Jawab gue tanpa ada antusias sedikit pun.

            “Gimana kelanjutan kisah lo dengan Ilia Yo?”

            “Hahahah... gatau gue, juga gue sama dia sudah engga pernah komunikasi lagi kok.” Jawab gue sambil ketawa-ketawa.



            Ah.. Ilia.. setahun berselang kita enggak pernah berjumpa dan sekarang lo sudah menjadi seorang yang terkenal sedangkan gue masih kaya gini-gini aja. Rasa penyesalan itu memang ada tapi gue berusaha untuk dapat tersenyum bangga karena seorang yang gue kenal dulu sekarang menjadi seseorang yang terkenal.

            Andaikan dulu gue benar-benar mendekati dia, apakah dia akan menjadi orang yang terkenal saat ini atau malah tetap menjadi seorang mahasiswi yang tidak di kenal banyak orang? Biarlah itu menjadi pertanyaan yang tak terjawab dalam hidup gue.

            Gue masih ingat kenangan gue saat bersamanya, sewaktu bersendau-gurau, saling berbagi cerita kami masing-masing, meski itu hanya sesaat tapi tetap membekas dalam benak gue dan satu yang gue yakin bila keyakinan gue akan kenangan itu takkan pernah mati atau hilang begitu saja.

            “Heh! Bengong aja lo yo! Pasti lagi bayangin Ilia kan nih?” ledek Lans.

            “Yeee.. Lo masih aja nanya lagi, jawaban dari pertanyaan lo mah pasti iya jawabannya, lo lihat aja mukanya ngarep banget kan?” tambah George.

            Memang teman-teman gue pada banyak yang tahu kalau gue memang pernah dekat sama Ilia dan ketika mereka pada tahu gue dicuekin bahkan sampai dibikin jarak sama Ilia, membuat gue menjadi korban dari cengan mereka semua.

            “Lagipula kenapa lo masih berharap sama Ilia sih yo?” tanya Lans sebelum gue menjawab pertanyaan dari mereka berdua.

            “Entahlah...” jawab gue dengan singkat dan gue langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

            “Tuhkan di tanya langsung kabur gitu, cupu lo ah Yo! Di tanya engga mau jawab dan langsung kabur udah kaya bocah lo!” ledek Lans ke gue dan gue tidak menanggapi hal tersebut.

            “Ya diakan masih bocah, malah kalah dari bocah tau Lans.” Tambah George untuk meledek gue.

            “Kalah dari bocah? Maksudnya?” Lans tampak berusaha mengerti apa yang diucapkan oleh George.

            “Bocah sekarang aja berani untuk mengungkapkan perasaannya, lah si Ryo malah Cuma memendam sendirian. Ya jelaskan kalah dari bocah?” jelas George ke arah Lans.

            “Serah lo berdua. Serah!!” ucapk gue sewot dari dapur.

            “Hahaha... gitu aja langsung sewot masbro.” Kata Lans sambil ketawa puas dan berjalan ke arah dapur.

            Iya gue memang kalah dari bocah-bocah jaman sekarang karena permasalahannya ini lebih kompleks daripada apa yang dirasakan bocah-bocah yang Cuma asal ucap akan perasaan mereka kepada lawan jenisnya. Ah, seandainya lo tau apa yang gue rasakan ini Ilia.

            Ilia, menurut gue sendiri seperti seorang bidadari, gadis yang masih ada keturunan China ini sangatlah menarik. Senyumannya dapat mengalihkan pandangan setiap orang yang tertuju padanya, selain itu dia di anugerahi akan talenta yang luar biasa yang dia kembangkan sehingga terkenal seperti saat ini yaitu menyanyi dan menari. Kecintaannya terhadap menarilah yang membuat dia dapat seperti ini.

            Gue sendiri terpana pada pandangan pertama saa awal perjumpaan dengan dia, dulu rambutya masih panjang terurai dan wakti itu dia sedang memakai kacamata yang langsung membuat gue lemas tak berdaya. Saat ini kecantikkannya benar-benar terpancar dan tak ada yang berubah dari pesonanya tersebut meski rambutnya sudah menjadi pendek, sesekali gue melihat dia masih mengenakan kacamatanya pada foto-fotonya di akun media sosialnya.

            Apa mungkin seorang biasa seperti gue ini dapat dekat dengan Ilia? Sekarang gue hanya dapat kagum pada dirinya yang sudah sukses dan tenar seperti saat ini.

            Gue berharap dia takkan melupakan gue saat ini, rasanya gue ingin bertemu dengan dia dan meminjam tangannya agar rasa ini tak bertepuk sebelah tangan.

            Atau gue harus melupakan dan menghilangkan apa yang gue rasa ini agar gue tidak terlalu lama untuk terus berharap dan menanti dalam ketidakpastian ini? tapi kalau begitu gue mengingkari apa yang gue yakinkan. Dalam hati gue sendiri ingin membuat dia tersenyum kembali dan yang menjadi alasannya untuk tersenyum adalah GUE!

            Bila tak mungkin menjadi seorang yang spesial dalam hidupnya, gue hanya berharap dapat menjadi teman yang lo kenal dalam hidup lo atau menjadi sahabat lo yang ada buat dirinya kapan pun, yang siap untuk mendengar curahan keluh keashnya dan menopangnya saat karir di artis sedang turun dan meredup.

            Gue percaya suatu saat nanti, gue dapat membisikan kata ini ke telinga Ilia, “Estare Para Siempre Ilia.” Meski dia tidak mengerti kata tersebut tapi gue akan membisikkan kata tersebut.

**

            “Yo, nanti mau ikutan gue sama anak-anak jalan enggak nih?” tanya George saat menjelang berakhirnya jam kuliah hari ini.

            “Kemana emangnya?” tanya gue.

            “Ada Girlband baru akan tampil di resto yang baru buka itu loh.”

            “Hah Girlband? Ah kalau kaya gitu malas ah ikut, ogah gue.” Gue menampik ajakan George.

            “Yeee... sayang kalau lo enggak datang, soalnya ada orang yang paling lo puja dan kagumi juga nanti loh! Beneran enggak mau ikut?” pancing George agar gue dapat ikut.

            Dalam hati gue penasaran siapa yang di maksud dan dengan keterpaksaan gue menyanggupi ajakan dari George. Dalam benak ini penuh dengan tanda tanya dan kebinngungan akan siapa yang akan ada disana.

            Saat gue dan teman-teman gue sampai di resto yang di bilang oleh George, gue kaget karena ada girlband yang hadir ternyata ‘Belle’ dan itu adalah girlband dari Ilia.

            “Acaranya belum mulai kan? Gue ke Mcd dulu aja deh ya.” Kata gue sambil kembali menyalakan mesin motor gue.

            Tapi dengan sigap George langsung mematikan motor gue dengan mencabut kuncinya, “Oke dengan kaya gini lo fix enggak bisa pergi kemana-kemana lagi Yo!” ucapnya dengan senyuman picik yang penuh dengan kemenangan.

            “Anjir.. yaudah mau engga mau gue harus ikutin kemauan lo semua ini.” ucap gue dengan pasrah karena kejadian itu.

            Kami masuk ke dalam, sebenarnya gue memilih tempat di belakang tetapi George dan yang lainnya mendorong gue untuk duduk di depan tempat yang sepertinya sudah di pesan oleh mereka. Acaranya memang sebentar lagi akan di mulai dan kebanyakan yang datang adalah anak-anak kecil.

**

            “Ya sekarang kita sambut penampilan dari Belle!!” kata pemandu acara dengan semangat dan di sambut akan tepuk tangan dari para penonton tidak terkecuali dari teman-teman gue.

            Tiga lagu yang dibawakan oleh Belle, lalu di lanjutkan dengan jumpa fans. Kelakuan dari teman-teman gue menjadi-jadi disini dengan meneriakan nama Ilia secara berulang-ulang, tampaknya Ilia mendengar kalau di panggil karena dia menoleh ke arah kami dengan senyuman yang indahnya dan tangannya terangkat.

            “Tuh Yo, dia lihat ke arah kita, sekarang saatnya lo beraksi!” seru Lans dengan heboh dan menepuk-nepuk pundak gue.

            “Hah? Beraksi? Maksud lo?” tanya gue dengan kaget dan bingung.

            “Iyalah sekarang saatnya lo utarain apa yang lo rasa ke dia.” Jelas Lans.

            “Anjir, jadi rencana lo pada bawa gue kesini untuk hal ini?” tanya gue dengan emosi, “Malu gila kalau gue ngomong kaya gitu di depan bocah-bocah kaya gini ya!”

            “Yo, sabar Yo... kita bukan mau bikin malu lo di depan anak bocah kok, kalau lo engga berani ngomong di depan umum, biar gue yang bawa Ilia ke depan lo.” Kata Ray yang berusaha untuk menengangkan gue tetapi malah membuat gue makin deg-degan.

            Gue kembali duduk dengan menutupi wajah gue dan tak lama berselang ada seseorang yang yang menepuk pundak gue dan menyadarkan gue dari lamunan gue.

            “Hai Ryo!” sapa seorang wanita dengan lembut dan gue hanya terpana ke arah wanita tersebut.

            “Cie...Cie...Cie..” teriak anak-anak dengan serempak yang malah membuat gue menjadi makin salah tingkah.

            “Kok liatin gue kaya begitu? Ada yang salah dari penampilan gue?” tanya Ilia.

            “Engga.. engga ada yang salah kok tapi lo cantik banget sekarang Ilia.” Jawab gue dengan gelagapan.

            “Makasih ya Ryo.” Kata Ilia tersipu malu dan wajahnya pias merah. “Oiya kata Ray ada hal yang penting mau lo omongin sama gue? Tentang apa?
            Gue mencari-cari keberadaan dari Ray tapi dia tidak ada di tempat kami.

            “Lo cari siapa? Cari Ray? Dia ada di depan Ryo.” Katanya yang sekan mengerti apa yang ada di pikiran gue.

            “Ah lama lo ngomongnya, gue sama anak-anak udah nungguin juga, apa perlu kita menyingkir dulu baru lo bisa ngomong?” tanya Lans dengan tampang bete.

            Gue hanya memberikan isyarat kepada mereka untuk meninggalkan Ilia dan gue, setelah mereka memahami isyarat yang gue berikan, mereka pergi meninggalkan kami berdua.

            Dan gue pun kikuk harus melakukan apa dan berbicara apa, lidah gue kelu tidak bergerak, yang ada hanya membuat keheningan di antara kami berdua.

            “Selamat ya Ilia yang sudah menjadi sukses sekarang!” ucapk gue sambil menyodorkan tangan gue.
            “Oh iya sama-sama kok Ryo.” Katanya dengan menyambut tangan gue, “terus yang mau lo omongin itu apa? Soalnya gue enggak punya waktu banyak.”

            Masih seperti dulu yang tidak mempunyai waktu yang banyak untuk gue, atau gue yang dari dulu selalu menyia-yiakan kesempatan ketika bersama dengannya?

            “Boleh gue memeluk lo untuk sebentar saja?”

            “Untuk apa?” tanyanya dengan penuh kecurigaan dan memperhatikan keadaan sekitar kami.

            “Gapapa sih, Cuma untuk sekali ini dan sebentae saja gue dapat memeluk seorang teman gue yang sudah menjadi artis.

            Dia mengangguk dan kami berpelukan sebentar, dalam angan gue menginginkan untuk dapat memeluk dan mendekapnya untuk selamanya dan tetap berharap untuk dapat menjadi miliknya.

            “makasih ya Ilia udah mau menyetujui permintaan gue ini, sukses ya di dunia keartisan dan gue akan selalu ada buat lo untuk selamanya kok.” Kata gue yang berusaha untuk dapat tetap tersenyum meski berat.

            “Iya, makasih ya Ryo. Gue cabut duluan ya mau balik lagi ke stage, see you bye bye.

            “See You.”

            Apa mungkin gue dapat bertemu dengannya sekali lagi secara langsung? Ilian berjalan ke arah kerumunan bocah-bocah dan larut di antara mereka tapi harapan untuk dapat memilikinya takkan pernah hilang, bila harapan itu terlihat tak mungkin mungkin menjadi seorang sahabatnya yang selalu ada buat dirinya dapat menjadi kenyataan.

            Rasa itu kembali gue tahan dalam diri gue karena gue belum siap untuk mengatakannya, menjadi seorang secret admirer ialah pilihan yang gue pilih.


 “Estare Para Siempre Ilia.”


“Dia berada jauh disana dan aku di rumah
Memandang kagum pada dirinya dalam layar kaya
Apakah mungkin seorang biasa menjadi pacar seorang superstar? ”
Pacarku Superstar – Project Pop

No comments:

Post a Comment