Wednesday, February 5, 2014

Surat Cinta Untuk Ibu.




Ibu, apa kabarmu? Apakah kamu masih bersedih di peraduanmu? Apakah air mata yang masih membasahi kedua pipimu, Ibu? Atau kah, engkau sedang marah kepada anak-anakmu?
Ibu, apakah aku boleh menyita waktumu sebentar untuk membaca surat dari ku mengenai cerita-cerita yang aku alami di negeri ini?
Ibu, tahun dua ribu empat belas sudah berjalan belasan hari. Tapi rasanya, masalah demi masalah masih saja setia berada di langit Indonesia. Sampai kapan kah ini semua harus berakhir, Ibu? Dan, apakah kamu tahu, bahwa aku terlalu lelah dengan yang terjadi di bangsa ini Ibu. Mereka, mereka mulai sibuk memperkenalkan diri mereka dengan baliho-baliho atau spanduk-spanduk yang begitu menganggu pemandangan, jangankan menganggu pemandangan, bahkan mereka menaruh di tempat-tempat seperti pendidikan atau instantsi pemerintahan.

Mereka yang maju untuk mewakili diri kami. Kembali mengeluarkan bisa-bisa manis yang begitu memabukkan rakyat-rakyat. Mereka kembali lagi berjanji-janji palsu, mereka lagi. Dan, Ibu. Rasanya aku ingin menertawai para calon-calon yang ingin menjadi wakil kami dengan dasar yang tidak memadai, bahkan mereka pun ada yang tidak tahu harus melakukan apa bila mereka lah yang terpilih untuk mewakili kami nanti.
Ibu, aku ingin bertanya sesuatu hal yang mengelitikkan. Apakah kami sebenarnya memiliki presiden di negeri kami, Bu? Mungkin, kamu akan tertawa bila mendengar pertanyaan ini dari ku, tetapi aku bertanya serius, Bu! Apakah presiden kami terlalu sibuk untuk mengurusi albumnya? Atau terlalu sibuk mengurusi partainya yang hancur berantakan karena kasus korupsi yang menjadi bom waktu bagi partainya? Atau, ia terlalu sibuk untuk menemani ibu presiden untuk foto-foto? Ah, Ibu. Aku rindu memiliki pemimpin yang mau bergerak bagi rakyat, yang bukan hanya mengatakan saya prihatin! Ibu! Dia yang sebagai pemimpin kami saja sudah berbohong tentang siapa dia, dia selalu mengaku bila dia adalah prihatin, padahal namanya dia adalah SBY. Sampai kapan ini akan terjadi Ibu?
Apakah benar bila politik itu tai kucing, Ibu?
Bahkan aku pun lelah dalam memperhatikan politik dalam kampusku, Bu. Awalnya aku memang ingin terlibat di dalamnya, tetapi kemudian aku menyadari bahwa aku memiliki kehidupan yang lebih penting lagi. Aku memiliki mimpi dan target yang perlu aku kerjakan, Bu. Bukannya aku takut, tapi aku lelah untuk membagi fokusku kembali, Bu, dan aku pun lelah untuk terus menunda penyelesaian dari tulisan-tulisanku, Ibu.
Ibu, apakah politik itu menghadirkan orang-orang yang kurang piknik dan bahagia? Apakah mereka hanya ingin merebut kepentingan mereka atau kelompok mereka? Ah, persetan dengan mereka yang sibuk untuk mengurusi kepentingan kelompok atau diri mereka sendiri. Bukankah ada yang lebih penting daripada itu? berdiri bersama untuk almamater, bukan untuk kelompoknya sendiri Bu? Atau apakah aku terlalu naif memandang ini semua?
Topeng, aku pun sering memperhatikan mereka yang hidup dalam topeng-topeng yang menutupi kebobrokan mereka. Mereka tersenyum, mereka tertawa, dan mereka menutupi tujuan-tujuan mereka yang terselubung.
Dan Ibu, apakah derita listrik yang sering padam di Medan bukan derita Indonesia? Apakah derita letusan gunung sinabung bukan derita Indonesia? Apakah banjir di Manado bukan derita Indonesia? Atau derita-derita yang di alami oleh masyarakat perbatasan bukan derita Indonesia? Bahkan daerah-daerah kecil bukan derita Indonesia, Ibu? Apakah memang derita Indonesia itu bila ada bencana di Jakarta?
Ibu, aku rindu melihat sosok-sosok pahlawan dan pejuang itu kembali. Aku rindu dengan sosok Hatta, sosok yang begitu mencintai buku dan bahkan sebelum ia mandi atau makan ia masih sempat untuk membaca buku, jangan-jangan ia pun selalu mendoakan para penulisnya juga? Rindu ku kepada sosok yang apa adanya, tak jarang ucapannya yang tanpa basa-basi yang hambar membuat lawannya diam. Ia hanya mengatakan, gitu aja kok, repot! Sosok pluralis yang memberikan kebebasan berekspresi budaya China. Ah, aku rindu dengan sosok Gus Dur, Ibu! Aku merindukan sosoknya lahir kembali di negeri ini.
Apakah kamu tahu juga Ibu, bila aku rindu melihat sosok pemuda yang mau berjuang untuk bangsanya. Aku pun rindu dengan satu sosok yang sampai sekarang belum diketemukan, ia hilang! Orang-orang yang dicurigai mengetahui penculikan itu bahkan sedang berusaha naik untuk menjadi presiden negeri ini? apakah negeri ini akan benar-benar rusak dengan pemimpim yang mempunyai dosa pelanggaran HAM, Bu?
Sosoknya yang lusuh dan ceking, berasal dari keluarga yang biasa saja tapi menjadi lawan pemerintahan. Kata-katanya begitu tajam seperti peluru-peluru yang membuat penguasa saat itu begitu takut menghadapinya, bahkan ia sampai berpindah-pindah untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran pemerintah. Bait dalam puisinya begitu mengenang dan terngiang hingga sekarang yang menjadi kekuatan bagi mereka yang turun ke jalan untuk melawan pemerintahan yang lalim. Hanya satu kata; LAWAN! Wiji Thukul. Akan kah dia akan kembali lagi dalam kondisi hidup, Bu? Siapakah pelaku dari dia dan sebelas orang lainnya yang masih belum kembali hingga sekarang?
Lalu, satu sosok lagi yang aku rindukan ialah Soe Hok Gie. Sosok yang begitu luar biasa menurutku Bu. Dia pun melawan politik keberpihakkan. Bahkan dia sempat dimusuhi oleh teman-temannya karena ia tidak mau bergabung dengan satu organisasi di kampusnya. Aku tidak terlalu banyak mengenal tentang dirinya, hanya melalui film dan buku-buku tentang dirinya yang belum selesai aku baca.
Ibu, apakah kamu sudah lelah membaca curahan hatiku ini? atau, apakah kamu masih menangis sambil membacanya, Bu? Menangis bukan karena membaca surat dariku, tetapi menangis karena kamu pun sedang memperhatikan anak-anakmu yang terhampar dari timur ke barat. Dari Sabang sampai Merauke. Rumah yang seharusnya milik kami, perlahan mulai bergerak dimiliki oleh asing. Lalu Ibu, apa yang masih kami miliki? Apa yang akan kami wariskan kepada anak cucu ku nanti?
Atau, kamu selalu berduka ketika anak-anak terbaikmu harus mendekam di jeruji besi karena penyakit menular yang begitu mematikan itu, Korupsi!
Ibu, dapatkah aku memelukmu? Aku ingin mendekapmu kali ini. aku ingin membuatmu bahagia dan kamu kembali tersenyum lagi, Ibu.
Rasanya aku ingin membagikan setiap cerita kasih kepada orang banyak. Orang-orang yang mulai lupa dengan kasih dan bahagia. Orang-orang yang sibuk untuk mengejar materi-materi yang menunjang status sosial mereka. Orang-orang yang mulai seperti zombie, hidup tanpa kebahagiaan dan cinta.
Ibu, apakah kamu tahu tentang buku Tuesday With Morrie? Aku baru saja menyelesaikan membaca buku itu. buku itu begitu luar biasa dan aku akhirnya mengerti tentang budaya yang diciptakan membuat kami lupa tentang yang namanya cinta dan kasih. Banyak orang yang kini terlalu sibuk dengan urusan-urusan mereka, sehingga mereka lupa untuk membagikan kasih dan cinta mereka.
Hahaha, apakah aku terlalu panjang bercerita di surat ini, Bu? Mungkin, kamu akan lelah saat membacanya. Bila kamu lelah, aku akan mengakhiri surat ini Bu, dan aku akan bercerita lagi melalui surat yang lainnya. Mungkin, aku akan bercerita tentang sepakbola di negeri ini.
Oh iya Bu, aku mencintai negeri ini. bagaimana pun buruknya para pemerintah, tetapi aku begitu mencintai negeri yang begitu luar biasa ini Ibu. Aku mencintai Indonesia. Ibu Pertiwi, berhentilah kamu menangis dan bersedih. Aku ingin kamu tersenyum dan kembali bahagia Bu.

No comments:

Post a Comment