Wednesday, September 11, 2013

Tentang Seorang Teman - Jude


Ini merupakan kisah seorang teman yang berasal dari Kecubung, suatu nama tempat di sekitaran Bulak. Aku berteman dengan dia sejak kelas sepuluh, dengan gaya yang terlihat keren saat itu ia masuk ke dalam kelas dan duduk di belakang. Sedangkan aku, bersama seseorang yang aku kenal sejak Masa Orientasi Siswa dulu.
Tapi, aku tidak terlalu mengenal dirinya hanya mengetahuinya karena teman sekelas dan selain itu orang tersebut lebih sering tidak ikut dengan anak-anak cowok kalau sedang jam bermain, dia lebih memilih untuk tidur atau mengobrol bersama dengan anak cewek. Bahkan waktu tidurnya pun sering dilakukan saat jam pelajaran sedang berlangsung, yang membuat namanya susah dilupakan oleh setiap guru yang mengajar di kelas, bahkan beberapa guru pun sering membuat becandaan karena kegiatan favoritnya tersebut.

Aku baru benar-benar mengenal dan bermain dengan dirinya itu baru saat menjelang LDKS, dan yang oleh karena dirinya pun angkatan OSIS kami menjadi lebih dekat karena kelakuan yang ia lakukan. Menginjak nasi yang akan menjadi santapan kami untuk malam, dengan muka yang tidak berdosa dan tanpa rasa bersalah dia hanya mengucapkan maaf. Sesaat kami semua para peserta LDKS yang ikut di OSIS serentak mengucapkan; “YAAAAAH...” dan wajah kami tertunduk lemas melihat aksi konyol itu.
Setelah pulang dari sana, aku sering membantu dirinya untuk menemani kalau sedang ada kegiatan Osis atau memberitahukan kalau ada kumpul setelah pulang sekolah. awal-awalnya terlihat ia memiliki kharisma yang besar kalau tidak mengetahui kebiasaannya tidur di kelas, dia pun dengan bangga dengan nilai sewaktu masuk ke SMA dan yang membuat anak-anak cowok lainnya mengira dia adalah murid yang pintar, dan tahunya, ternyata sama aja dengan anak-anak yang malas lainnya. :p
Aku masih ingat, bahkan kejadian ini pun menjadi bahan ceng-cengan kalau kami sedang kumpul lagi seperti dulu. Selain nasi yang diinjak, kejadian yang membuat sesuatu hal yang menjadi terkenang ialah setelah kami mengadakan acara OSIS di puncak. Pulang dari acara tersebut, segala jerih payah dan tenaga kami yang telah kami keluarkan untuk acara tersebut akhirnya terbayarkan juga dengan sesuatu yang kami tidak harapkan dan akhirnya memang menjadi makanan kami setiap acara. Diomelin. Setelah kami diomelin di suatu ruangan kelas, kami seangkatan berkumpul dan ada yang benar-benar menangis, ketika suasana sudah begitu dapat rasanya seketika itu pun hancur, suara tangisan yang lebih terkesan berlebihan dan malah lebih tepatnya menjadi salah satu hiburan ketika perasaan kami telah hancur. Pelakunya tidak bukan dan tidak salah lagi, orang yang pernah menginjak nasi sewaktu LDKS.
Atau satu kisah yang juga tidak terlupakan tentang seorang temanku ini ialah, ketika ia mengirimkan SMS untuk memberitahukan kalau dia akan berangkat ke Jepang untuk membantu Ultraman melawan monster-monster yang berkeliaran disana. Keesokkan hari atau beberapa hari setelah itu, dia masuk ke sekolah dengan suatu bekas lilitan di lehernya. Kami pun sering mengatakan kalau teman ku tersebut saking frustasi atau stressnya hingga ingin melakukan percobaan bunuh diri, tapi kejadian sebenarnya ialah saat ia pulang ke rumah, dia tidak melihat seutas benang layangan di depannya sehingga benang itu menyangkut di lehernya dan membuat bekas pada lehernya.
***
Aku dan teman ku itu akhirnya berpisah kelas, tapi sialnya kembali bertemu di kelas dua belas. Mau tidak mau, aku akhirnya jadi teman satu bangku dan duduk di barisan terdepan karena cuman itu yang tersedia dan tidak bisa memilih lagi.
Di ujung-ujung akhir dari sebuah kisah cerita yang dibilang orang paling membahagiakan itu, ada sebuah hal yang paling males dari teman ku itu adalah ketika ia ngambek. Entah, aku lupa pastinya sebabnya dia ngambek itu karena apa, tapi ketika aku dan beberapa teman yang sering bermain bersama dengan dirinya mau minta maaf sekalian ijin pulang sama dia. Dia malah kaya ajakkin main kejar-kejaran, mulai berjalan dari gedung selatan, naik ke lantai dua, melewati jembatan ke gedung utara, dan berakhir di ruang osis untuk tiduran disana.
Awalnya memang ada perasaan yang engga enak karena kejadian ini, terlebih lagi dia tampak cuek dan tidak peduli dengan kehadiran kami disana, tapi lebih ngeheknya itu besok paginya! Dia seperti lupa akan kejadian kemarinnya, datang dengan senyuman biasanya langsung menyapa kami pagi hari yang membuat kami merasa ada yang aneh dan berbeda dengan anak yang satu ini. dan setelah itu, kalau misalnya dia ngambek, yaudah kami biarin karena dari kejadian yang telah berlalu juga dia besoknya dia yang akan menyapa dan seperti tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya.
Ternyata kebiasaannya sewaktu kelas sepuluh pun belum berubah, tetap tidur di kelas dan karena aku teman sebangkunya kalau pun ikutan tidur di dalam kelas yang ada makin berabe, akhirnya membuat aku terpaksa untuk menjadi sisi anak yang rajin menyatat dan berusaha paham tentang materi yang sedang diberikan. Karena dia dulu pengurus osis pun membuat anak-anak dengan memutuskan untuk menjadikan dia ketua kelas, seingatku.
Hari-hari terus berjalan membawakan sebuah kisah dan tawa, namun dibalik sebuah tawa itu akan muncul sebuah kesedihan. Aku pun bingung untuk menjelaskan apa yang terjadi oleh temanku itu. seperti kebiasaan umumnya anak kelas dua belas yang di semester dua mempunyai waktu pelajaran lebih sedikit membuat kami bisa lebih leluasa untuk bermain, saat itu kami bermain di rumah teman kami yang rumahnya tidak jauh dari sekolah.
Setiap ia sedang galau, yang dilakukan adalah menyanyi atau tidur. Errr... suaranya? Ah, sayangnya kalau dia sedang menyanyi aku sedang tidak berada disana, cuma dikasih rekaman suaranya yang mampu mengocok perut bila mendengarkannya.
Ah, sebuah ingatan kejadian masa lalu yang mampu membuatku tersenyum ketika membayangkan setiap bagiannya. Andaikan waktu dapat kembali berputar dan mengulang lagi ke masa lalu, aku ingin kembali hidup di masa lalu saat gelak tawa dan bahagia begitu mudah didapatkan, tidak seperti sekarang yang penuh dengan tekanan dan tuntutan.
***
“Berjuang di kota orang, ingin jadi rajanya sidang..
Ayo berjuang kawan! Hajar yang menghadang!”
Kini, teman kami ini sudah meninggalkan kota ini untuk berjuang mengejar cita-citanya menjadi tukang minyak, eh bukan, maksudnya, itu entahlah tapi dia melanjutkan pendidikannya di kota pendidikan Jogja.
Pergi jauh. Namun, setiap dia kembali datang ke kota ini yang ia lakukan adalah mengajak main atau kumpul-kumpul lagi menghabiskan waktu bersama seperti masa putih abu. Di tulisan ini, aku bukannya ingin mencela teman ku ini, cuma karena di hari minggu yang lalu dia sedang mengulang hari kelahiran dan bertambah tua lagi... rasanya pun baik untuk memberikan sebuah tulisan ini. sebenarnya aku ingin menuliskan banyak hal lagi tentang pertemanan ini, namun biarlah yang tak tertulis itu menjadi sebuah kisah yang tak terucapkan atau tak tertulis, namun tetap menjadi sebuah kisah yang luar biasa dalam kehidupan ini.
Ketika ia jauh pun, kami merindukannya untuk menjadi bahan cengan. Dan nama teman itu adalah SBPP. Happy Bren’s Day!!
“Teman kami tidak mencela, kami hanya rindu padanya...
Cepatlah pulang kawan, jangan kelamaan.
Kurangi asupan, nanti jantungan.

Tapi yang penting senang.”Tentang Seorang Teman (Jude)

1 comment:

  1. T.I. titanium vs ceramic flat iron - titanium and clay
    T.I. titanium vs ceramic titanium piercings flat iron. revlon hair dryer brush titanium One titanium iphone case of the does titanium set off metal detectors top premium jewelry that I have to work on. titanium bmx frame

    ReplyDelete