Thursday, November 7, 2013

Secangkir Kopi Senja



Sore ini terasa berbeda, aku terlalu malas untuk ikut nongkrong di selasar kampus bersama dengan teman-temanku. Kuis-kuis yang aku hadapi seharian membuat badanku terasa lelah untuk melakukan aktifitas hari ini, namun aku juga malas untuk langsung meninggalkan kampus di sore hari. Emosi dan energi akan terkuras sia-sia karena kemacetan.

Aku memilih untuk meninggalkan kampus pergi ke satu tempat yang tidak jauh dari gedung kampusku. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu lama untuk aku dapat sampai sana, ketika aku sampai disana aku langsung memilih tempat di lantai dua dan di luar ruangan agar aku dapat menikmati suasana sore itu lebih rileks.
Pandanganku mengarah ke jalan yang mengarah ke kampusku, sekumpulan mahasiswa yang berjalan entah kemana saling bercanda dan mengobrol di tepian jalan, kemacetan di pertigaan yang di dominasi oleh motor dan angkot yang menaik turunkan penumpang secara sembarangan menjadi suatu pandangan yang terlihat biasa terjadi.
Matahari perlahan mulai turun ke bawah menyembunyikan wajahnya untuk kembali ke peraduannya. Dan langit, langit sore itu mulai mempercantik dirinya dengan biasan warna jingga yang halus terpancar.
***
Ah, aku selalu menyukai saat-saat seperti ini! ada keindahan dan kemanisan di dalamnya, ada sebuah rasa seni yang hadirkan oleh pencipta setiap sore. Seni yang diberikan untuk menghibur para penikmatnya yang lelah menjalani harinya.
Secangkir kopi hitam yang aku pesan masih mengembul memamerkan asapnya bercampur bersama asap rokok mild yang aku bakar menjadi temanku menikmati sore yang lebih sering dipanggil dengan senja.
Aku kembali membaca ulang koran tadi pagi yang baru beberapa lembar aku baca, namun ketika aku baru di halaman awal.
Aku terdiam mematung.
Sesuatu yang lebih indah daripada senja yang sedang  terjadi.
Seorang perempuan duduk di depanku. Hanya duduk sendirian atau ia sedang menunggu temannya pun aku tahu. Tapi, yang jelas perempuan itu memancarkan sebuah keindahan melalui senyumnya. Aku benar-benar dibuat terpukau oleh karena kecantikkannya, mulutku seakan dibungkam tak dapat berbicara apa-apa, hanya ada pandangan seperti orang yang sedang terpesona.
Perempuan yang memiliki rambut pendek yang jatuh dibahunya, dibalut dengan pakaian batik cokelat dan rok yang selaras warnanya. Ia mengeluarkan satu buku dari tas merah yang ia tenteng.
Jantungku berdegup semakin cepat, semakin cepat tiap detiknya.
“Aku ingin berkenalan dengan perempuan itu!” ucapku dalam hati sekaligus mengumpulkan keberanianku.
***
Gelak tawanya memecahkan kekakuan di antar kami berdua. Sebuah lesung pipit yang berada di pipi kirinya mempercantik dirinya dan aku menyukai dirinya ketika sedang tersenyum. Indah, benar-benar indah!
“Kamu tahu, kenapa kamu diberi nama Senja oleh orangtua kamu?” tanyaku dengan tampang serius.
Perempuan itu hanya mengelengkan wajahnya lemah.
“Mungkin, karena orangtua kamu berharap agar anaknya kelak seindah langit senja, dan ternyata kamu memang mempunyai senyuman seindah langit senja,” gombalku dengan wajah innocent yang membuatnya tertawa untuk menutupi wajahnya yang memerah tersipu malu.
“Hahaha... kamu bisa saja Ris!” ucapnya menutupi mulutnya dengan tangannya.
Aku tersenyum dan dia pun membalas senyumanku seakan kami berdua saling mengerti apa yang berada di pikiran kami masing-masing.
Namun, setelah itu... tawa itu membias begitu saja digantikan dengan sebuah keheningan.
Btw, aku suka heran dengan orang-orang kenapa mereka menyukai langit senja ya, Ris? Padahalkan senja menandakan akhir dari satu hari?” aku tersedak ketika mendengar pertanyaan tersebut.
Senja. Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibirnya memaksaku untuk berpikir tentang pertanyaan yang terdengar filosofis yang membuatku mati kutu kehabisan jawaban.
Aku kembali meneguk kopi hitam yang aku beli dari bawah.
“Lalu, mengapa juga orang-orang menyukai kopi hitam yang pahit?” Senja kembali mengajukan pertanyaan yang hampir menyerupai pertanyaan sebelumnya.
“Entahlah, aku pun tidak mengerti,” jawabku mengangkat kedua bahuku, “Namun, yang aku tahu, langit senja itu manis dan indah. Dan, mengenai kopi hitam yang pahit, aku pernah mendengar sebuah kalimat dari film, supaya kita mengetahui bahwa di luar sana tidak selalu manis.” Lanjutku tenang dengan menatap matanya yang agak sipit itu.
“Aneh.” Jawabnya singkat lalu kembali diam.
“Bila aku mengambil kesimpulan dari penjelasanmu, berarti kita memang menyukai perpisahan yang manis atau indah bukan? Tentang kopi itu, aku setuju dengan kalimat tersebut! Terkadang rasa pahit itu harus kita endapkan dan tinggalkan seperti ampas kopi yang tersisa, bukan begitu ,Ris?”
Aku tersenyum.
“Tapi, mengapa harus ada perpisahan bila ada pertemuan di awalnya? Bukankah kita semua berharap tidak akan pernah berpisah?”
Aku salah menduga tentang Senja, aku pikir dia seperti perempuan lainnya, tapi dia unik dan berbeda dengan perempuan lain. Pertanyaan yang mengalir dari bibirnya itu tidak mencerminkan dirinya dari penampilannya yang terkesan lebih menampilkan penampilannya.
“Mungkin, agar kita dapat belajar tentang sebuah perpisahan dan kehilangan itu.” aku menjawabnya dengan hati-hati. “Apakah kamu mau untuk menikmati waktu bersama dengan matahari terus? Pasti kamu pun ingin melewati hari bersama bulan, nah, makanya ada sebuah perpisahan antara siang dan malam melalui senja itu.” jelasku lebih lagi memberikan sebuah penjelasan yang aku pun tidak terlalu mengerti.
Senja menyenderkan badannya, menghela napasnya secara teratur.
***
Langit perlahan mulai berubah menjadi gelap. Dari tempatku duduk, aku dapat melihat kemacetan di pertigaan semakin memperparah. Dari sebuah sisi lainnya aku melihat sebuah keindahan lain ketika lampu-lampu perlahan mulai menghiasi jalanan saat itu.
Senja terus menerus melirik jam tangannya dengan rasa khawatir. Ada sesuatu yang membebani pikirannya saat itu aku rasa.
“Senja, kamu kenapa?” tanyaku pelan membuatnya terkesiap.
“Ga-papa, aku cuma khawatir jam segini cowokku belum datang untuk menjemputku.” Jawab Senja dengan gugup.
Seketika hatiku langsung hancur berantakan. Kalimat sederhana itu mampu membuatku terdiam untuk beberapa saat, meski sesederhana itu pun aku seperti dihantam oleh benda yang keras tepat di wajahku. Rasanya sakit.
“Kenapa Ris? Ada yang salah?” Tanya Senja memandangku bingung dan aku begitu canggung ketika melihat pandangannya.
“Ah, ga-papa, a-ku...” aku begitu gugup dan salah tingkah ketika menjawab pertanyaan tersebut, “Sudah, lupakan saja Senja.”
Pandangan kami kembali bertemu pada satu titik dan pada saat kami berada di titik yang sama itu, ada perasaan bersalah dan tidak enak menjalar dari dalam hatiku. Seakan mengatakan bila aku terlalu jauh dan terbuai cukup lama dengan obrolan bersamanya.
Debaran jantungku mulai memelan dan normal kembali.
Seorang pria dengan setelan lengkap dan rapih terlihat begitu tergesa-gesa dan pandangan matanya menyapu setiap sudut tempat ini. Aku memperhatikan gelagat pria tersebut dengan rasa penasaran dan debaran jantungku perlahan mulai cepat, seperti ada yang salah dalam diriku.
Pria itu memencet-mencet ponselnya, setelah itu bunyi ponsel Senja pun berbunyi. Pria itu yang berdiri tidak jauh dari tempat kami seperti mendengar suara ponsel Senja dan ia seperti sedang mencari-cari asal suara tersebut.
Pria itu memandang ke arahku, berjalan ke arahku dan menatap lekat punggung Senja. Aku semakin curiga bila pria ini yang sedari tadi di tunggu oleh Senja.
Ternyata, benar!
“Hai, sayang! Maaf ya, aku terlambat jemput kamu!” ucap pria tersebut dengan merangkul pundak Senja lalu mencium pipi Senja di depanku.
Aku ingin pergi meninggalkan mereka. Aku terlalu benci melihat kemesraan sepasang kekasih di depanku yang begitu memuakkan untukku.
“Sayang, kenalin ini Haris! Dia anaknya asyik dan dari tadi dia yang nemenin aku untuk nunggu kamu!” Senja seakan menyadari keberadaanku disana dan dia langsung memperkenalkan aku dengan pacarnya.
“Hai Haris, terima kasih ya, telah menemani Senja!” ucap pria itu dengan bersahabat dan mengayunkan tangannya ke arahku dan aku menyambut jabat tangan pria itu.
Aku hanya dapat menjawabnya dengan tersenyum.
“Haris, aku pulang duluan ya!” ijinnya singkat dengan sebuah senyuman yang begitu hangat terlukis di wajahnya. Aku hanya mengangguk dan membalas senyuman Senja, lalu mereka pergi meninggalkan aku yang masih terpaku melihat punggung Senja yang perlahan menghilang di tutup oleh dinding yang membatasi pandanganku.
Aku menoleh ke arah jalanan dan lagi-lagi pandanganku tertuju ke arah mereka yang sedang masuk ke dalam mobil sedan putih.
Menghela napasku dalam-dalam dan aku berpikir semuanya telah berakhir, hingga akhirnya seperti biasa aku kembali belum berhasil untuk mendapatkan seseorang yang aku sukai.
Ketika aku ingin pergi meninggalkan tempat ini untuk kembali ke kampus, mataku menemukan sesuatu yang janggal di bawah cangkir kopi Senja. Ia menyembunyikan sesuatu yang tak sempat ia ucapkan ketika ia pergi tadi.
Secarik kertas yang bertuliskan,
            Terima kasih untuk obrolan sore ini, aku harap kita dapat bertemu lagi dan berbincang lebih banyak lagi sama seperti obrolan sore ini. Aku tahu, kamu pasti tertarik kepadaku tetapi maaf Haris, aku sudah mempunyai pacar dan aku harap kamu tidak kecewa. Tapi tenang, kita masih bisa menjadi teman. Iya, hanya sekedar menjadi teman dan tidak lebih daripada itu.
            Sama seperti ampas kopi yang tadi kita bicarakan, aku pun sengaja menaruh kertas ini pada cangkir kopiku. Tepat dibawahnya, karena aku tahu sebuah kepahitan akan perpisahan dan kenyataan yang harus kau terima setelah ini, Ris.
Terima kasih sekali lagi.
Senja.

No comments:

Post a Comment