Saturday, August 2, 2014

Nyaman Dalam Zona Aman.

Semua orang akan terus berlari mengejar impiannya hingga pada suatu titik mereka akan berdiri pada titik yang membuatnya nyaman dan berhenti untuk berlari. Nyaman dalam artian menikmati segala yang mereka dapatkan, meski mimpinya belumlah sepenuhnya mereka dapatkan. Nyaman dalam artian menghindar untuk terus berjuang dalam apa yang cita-citakan.

Semua orang yang berlari dalam trek yang lurus akan merasakan kejenuhan saat mereka berlari. Semuanya terasa tenang baginya, angin yang berhembus dengan sepoi, sinar mentari yang tidak terlalu terik, dan segala kebutuhannya terpenuhi setiap mereka membutuhkan. Mereka akan berlari dengan tenang dan perlahan menjadi pelan hingga pada suatu saat mereka jenuh dengan apa yang mereka lakukan. Semuanya tampak menjadi membosankan bagi mereka.

Semua orang akan dipaksa berlari mengejar sesuatu dan dalam berlari mereka akan membuat target-target untuk dapat mencapai mimpi-mimpinya. Entah itu membuat semacam deadline, kata-kata penyemangat, atau list-list yang harus dilakukan untuk dapat mengejar mimpinya. Namun, pada nyatanya semakin ia jauh berlari semakin sering melakukan negoisasi terhadap segala sesuatu yang ia buat dan akhirnya jatuh dalam lubang kebosanan.

Saat berlari. Entah itu untuk skripsi, tugas kuliah atau kantor, projek-projek pribadi atau kelompok, atau lain halnya yang selalu dikatakan oleh orang banyak adalah fokus. Fokus dan selalu fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan. Lalu, akan lelah sendiri ketika setiap hari fokus dalam apa yang akan dikerjakan, tetapi terkadang bila diselingi dengan bermain akan kebablasan untuk terus bermain. Dilema.

Ketika berada di titik nyaman dengan segala apa yang dimiliki, rasanya akan banyak alasan-alasan yang diucapkan mengenai mengapa tidak terus berlari dalam mengejar mimpinya tersebut hingga akhirnya setiap waktu yang terbuang berakhir dengan rasa penyesalan. Semua kalimat tanya muncul dalam otak dan semakin membuat rasa bersalah itu berkembang semakin lama semakin besar.

Mencari kambing hitam akan segala keterlambatan yang ia alami. Mencari kambing hitam mengenai kegagalan untuk meraih mimpi-mimpinya. Semuanya dilimpahkan kepada hal lain, padahal kesalahannya ada dalam dirinya sendiri.

Kenyamanan merupakan hal yang paling indah dalam kehidupan. Saat kita nyaman terhadap sesuatu, saat itu kita merasa memiliki dengan sepenuhnya dan tidak ingin meninggalkan orang tersebut dengan alasan kenyamanan itu sendiri. Perlahan ketika kenyamanan itu mulai menghilang mengikuti kondisi dan waktu, kita akan kembali mencari sesuatu hal untuk dipersalahkan untuk menggugat kenyamanan itu sendiri.
Adakah yang salah dengan kenyamanan? Adakah yang salah dengan zona aman?

Hemat saya, tergantung dari sisi mana. Ketika nyaman dalam zona aman membuat kita tidak dapat berkembang dengan maksimal berarti ada yang salah dengan cara kita. Bukankah kita memang dituntut untuk terus mengembangkan kemampuan kita? Bukankah kita diharuskan untuk mengejar mimpi-mimpi kita?
Mungkin, ini juga yang sedang saya rasakan. Nyaman dalam zona aman.

Menulis merupakan kenyamanan dalam keseharian. Namun, semakin lama saya merasakan nyaman dalam zona aman ini saya semakin terbuai untuk bersantai dan target-target yang harus dicapai selalu diatur ulang tergantung mood saya. hingga akhirnya pada titik ini saya merasakan jenuh dalam menulis. Entah itu menulis jurnal sepakbola, tulisan-tulisan ringan, atau projek novel saya.

Semuanya berawal dari kata nyaman di zona aman ini dan seperti seorang ilmuwan yang berusaha untuk mencari rumus-rumus antidote untuk kenyamanan yang membuat jenuh dalam mengejar target-target atau mengerjakan projek-projek.

Bahkan terkadang kenyamanan membuat kita lupa bila kita sedang berlari untuk mengejar mimpi yang lebih besar lagi dan membuat langkah kaki kita perlahan berhenti dalam perjuangan di saat kita melihat garis akhir yang berada tidak jauh lagi dari hadapan kita. Pahitnya, nyaman membuat kita menyerah untuk terus berkembang dan mencari yang lainnya.

Dapatkah sekarang aku menyerah dalam kenyamanan dalam zona aman ini?

Monday, July 21, 2014

Trip Tiga : D.I.Y ( Bagian Satu)

Akhirnya kesampaian juga pergi ke kota pelajar ini, kota yang sesungguhnya sudah menjadi harapan gue untuk pergi kesini dan masuk ke dalam impian pergi di tahun ini. kota yang selalu menyimpan cerita dan selalu istimewa di hati. Kota yang lebih ramah dan nyaman dibandingkan dengan Ibukota yang jahatnya melebihi ibu tiri.

Sekarang, mari kita mulai semuanya....

Bentar, memangnya ini trip ketiga? Bukannya baru pertama kali masuk ke dalam catatan perjalanan di blog ini?

Kembali ke masa lalu.



Otak gue mulai teracuni cerita dari film X-Men terbaru yang dimana mengisahkan masa depan para mutan yang terus diburu oleh steniel dan mencapai ke titik kepunahan dari mutan akibat kesalahan yang dilakukan oleh Raven di masa lalu. Akhirnya Logan lah yang dikirimkan ke masa lalu untuk mencegah Raven membunuh ilmuwan yang menciptakan robot pemburu tersebut untuk mengubah sejarah di masa depan.

Namun sayangnya gue bukan mau cerita tentang film X-Men, tetapi ehm –bisa dilihat lah dari judulnya sendiri gimana ya?. Film X-Men aja boleh kembali ke masa lalu untuk memperbaiki masa depannya, masa kita engga boleh kembali ke masa lalu? Boleh dong, boleh aja ya.hehe . dan, kembali ke masa lalu pun bukannya engga bisa move on juga kan? Tapi sih katanya ya, kalau masih rindu dengan masa lalu berarti kehidupan di masa sekarang mengalami kemunduran makanya rindu masa lalu.

Yang Bertahan dan Yang Berjuang.

Pikiranku langsung melayang kemana-kemana saat mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang sederhana namun sanggup membuatku bertanya-tanya. Bukankah kita semua memang perlu yang namanya bertahan dan berjuang? Bukankah dalam bertahan itu butuh yang namanya perjuangan? Dan, memang berjuang tidak selamanya identik dengan bertahan. Lalu, mengapa hal ini menjadi sebuah pertanyaan?

Bila dalam sepakbola ada sebuah istilah menyerang ialah pertahanan terbaik. Perjuangan yang dilakukan dalam penyerangan butuh kerja ekstra keras untuk dapat membongkar pertahanan lawan untuk mencetak gol dan meraih kemenangan, namun disisi lain pun negative football yang memainkan taktik tidak indah dan cenderung membosankan dengan memarkirkan bis, pesawat, bahkan tank sekalipun di dalam lapangan lebih pasnya dalam pertahanan sendiri, hampir sebagian pemain bertahan untuk menjaga keunggulan atau mencegah supaya tidak kebobolan.

Sunday, May 18, 2014

Balada Pengagum Rahasia!


Kegiatan apa yang paling menyedihkan namun menyenangkan ketika dilakukan? Mungkin, menjadi seorang yang mencintai dalam kesendiriannya tanpa berani untuk berucap atau bahkan tak berani untuk berkenalan padahal ia telah jatuh cinta terhadap orang tersebut.

Ah, memang jatuh cinta sepertinya aneh dan tidak masuk akal. Terkadang kita dapat jatuh cinta terhadap orang lain tanpa kita sadari, bahkan sesaat ketika menolak untuk mengakui di bibir namun pada kenyatannya dalam hati sudah mendekap asa dalam bayangannya yang menghantui lini per lini dalam otak ini.

Tuesday, April 1, 2014

Seksiologi. Eh, Sosiologi.



Perbedaan tempat membuat kita perlu untuk beradaptasi dengan keadaan sekitar. Itulah yang kurasakan ketika pindah atau lebih tepatnya pergi dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Awalnya, aku merasakan kecanggungan karena dalam kepindahan ini ada perbedaan angkatan yang kualami. Iya, meski di tempat lama aku sudah biasa untuk sekelas bersama dengan angkatan bawah.

Pertama bertemu dengan mereka, semua tampak biasa saja, tidak ada yang aneh yang merasuki pikiranku, meski satu hal yang kubenci ialah jumlah mahasiswa dalam jurusan ini paling sedikit di fakultasku.

Pertemuan Pertama.



Pertemuan pertama akan menghasilkan penilaian pertama bagi orang lain, bisa itu baik, bahkan bisa saja penilaian itu buruk. Bahkan dalam penilaian pada pertemuan pertama pun dapat menipu, namun kita lebih sering atau mudah menilai orang pada pertemuan pertama sendiri, padahal banyak orang yang mengatakan bila jangan menilai suatu buku melalui cover, sama seperti menilai seseorang jangan melalui penampilan dan pertemuan pertama. Aku pun menyadari lebih mudah dan cepat menilai seseorang dari penampilan dan kesan pertama, meski pada akhirnya terkadang juga penilaian kita salah pada orang itu.

Dalam pertemuan pertama pun kita dapat jatuh cinta, jatuh pada suatu perasaan yang begitu cepat dan tidak jelas. Cinta pun tidak hanya melulu memerlukan alasan yang tepat untuk menjawab mengapa dapat jatuh cinta?